Minggu, 06 Oktober 2013

PALUI DAN NGUNGU



            Kisah ini bermula dari sepasang suami istri dengan dua orang anak laki-laki, si Palui dan si Ngungu. Seperti anak-anak pada umumnya si Palui dan si Ngungu tumbuh dengan normal. Tubuh mereka sehat dan badan mereka kuat. Namun daya tangkap dan daya tanggap otak mereka sangat lemah. Orang-orang dikampung Bedungun, Berau, menamai dua anak itu sepasabg anak Dungu. Si Palui dan Si Ngungu tak menghiraukan olok-olokan atau risakan anak-anak seperantara mereka, justru malah dikiranya mereka sedang dielu-elukan. Namun, lambat laun mereka mulai dijauhi. Bila mereka datang anak-anak yang lain langsung menghindar.

            Alhasil, mereka lebih banyak bermain berdua. Atau membantu orangtua mereka bekerja diladang. Walaupun kedua orang tua mereka merasa malu. Namun, sepasang suami istri itu tetap mencintai dan mengasihi anak-anak mereka. Suatu ketika, sang Ayah menyuruh si Palui dan Si Ngungu memeriksa bubu (jarring) disungai.

            “Coba kalian periksa bubu disungai,” kata sang Ayah, “ bubu itu sudah Ayah pasang sejak kemarin. Mudah-mudahan sudah ada ikannya. Kecil-kecilpun taka apa.”

            Dengan gesit, si Palui dan si Ngungu berlari ke Sungai. Begitu bubu diangkat, mereka amat bergembira karena banyak ikan yang tertangkap. Mereka pun meletakkan bubu diatas tanah dan memilah ikan-ikan tangkapan itu. Ikan-ikan yang besar mereka buang ke sungai, sedangkan yang kecil-kecil dibawa pulang kerumah. Setiba dirumah, mereka serahkan ikan hasil tangkapan itu. Sang Ayah dan sang Ibu tercenung melihat ikan tangkapan mereka kecil-kecil.

            “Tengok sini,” kata sang Ayah, “kenapa ikan ini kecil-kecil?”

            Si Palui menjawab dengan lantang, “kata Ayah, kecil-kecilpun tak apa!”

            Sang Ibu melongo. “Maksud Ayahmu,”tuturnya dengan sabar, ”kalau ikan-ikan yang terjebak dibubu kecil-kecil, ya, tidak apa-apa. Tapi, kalau yang tertangkap besar-besar, ya lebih bagus….”

            Si Palui dan si Ngungu langsung berlari ke sungai. Dengan penuh semangat, mereka menyelam mencari ikan-ikan besar yang mereka tadi lepaskan. Sesekali mereka muncul ke permukaan dan berteriak memanggil-manggil ikan-ikan itu, tapi tak satupun ikan yang menyahut, apa lagi yang datang memenuhi seruan mereka. Setiba dirumah, dengan wajah sedih, si Ngungu menceritakan kegagalan mereka. Sang Ibu tersenyum penuh kasih menerangkan dengan perlahan. Begitulah. Lambat-laun, si Palui dan si Ngungu mulai mengerti. Setiap hari mereka ke tepi sungai, mengangkat bubu dan memeriksa hasil tangkapan. Tak pernah lagi mereka salah. Tak mau lagi mereka gegabah. Kecil atau besar ikannya mereka bawa pulang.

            Ketika hasil tangkapan itu makin banyak   melebihi kebutuhan makan mereka, sang ibu berkata, “bawalah sisa ikan kita ke pasar.”

Dengan cekatan, tulang-tulang dan sisa-sisa ikan yang mereka makan dibungkus dengan rapid an dibawa ke pasar. Ternyata tak ada seorang pun yang sudi membeli sisa ikan-ikan itu. Sekembali dari pasar, si Palui menceritakan pengalaman dipasar itu kepada ibunya.

Sang Ayah menjawab dengan sabar, “ Maksud ibumu bukan ikan yang bekas kita makan.” Dia menarik napas, dan berkata, “ besok, tidak semua ikan hasil tangkapan kita masak. Sebagian ada yang disisihkan untuk kalian jual ke pasar.”

Sang ibu menambahkan, “ Uangnya dibelikan garam buat sayur.”

Keesokan harinya, mereka kepasar menjual ikan segar. Kali ini, dalam waktu singkat, ikan mereka laris terjual. Mereka sangat bergembira, tertawa-tawa dan menari-nari ditengah pasar. Orang-orang berkerumun menyaksikan tingkah mereka, lalu satu-satu melipir sambil menggeleng-gelengkan kepala. Si Palui dan si Ngungu bergerak ke penjual garam. Seluruh ikan hasil penjualan ikan dibelikan garam. Dua karung. Satu dipangggul Palui, dan yang satu lagi dipanggul Ngungu.

Setiba dirumah, sang ibu sudah menunggui kedatangan mereka. Dia heran melihat si Palui dan si Ngungu tidak membawa apa-apa. “dimana ikan kalian?”

“Habis, Bu,” jawab si Palui.

“Uangnya?”

“kami belikan garam dua karung,”jawab si Ngungu.

Sang ibu terheran-heran.

“Sepanjang jalan,” imbuh si Palui “ kami mencari kebun sayur dan menaburkan garam disana.”

Sang ibu terkesima. “ Maksud Ibu, tidak semua hasil penjualan itu dipakai buat beli garam. Sedikit saja. Garamnya juga bukan untuk kebun sayur orang lain. Itu buat ibu masak sayur, biar sayurnya tidak hambar…”

Si Palui dan si Ngungu terkejut mendengar jawaban sang Ibu. Merasa bersalah, mereka langsung berlari menyusurijalanan yang tadi mereka lewati. Saat itu hujan deras sekali. Namun mereka tak peduli, terus berlari mencari kebun-kebun sayur tempat mereka menaburkan garam. Ketika melihat kebun yang dia cari, mereka langsung masuk dan mencari garam-garam yang mereka taburkan. Ketika melihat kebun yang dicari mereka langsung masuk dan mencari garam-garam yang sudah mereka taburkan ke segala arah. Mereka cabuti sayur-sayuran, tak sebutir garampun yang mereka temukan.

“Aneh,” desis si Palui, “ kemana garam-garam itu?”

Si Ngungu menyaka dahinya, mengusir butiran hujan yang mengalir kepipi. “Pasti sayur ini mau bikin malu kita, Bang.” Kemudian, dengan penuh amarah, tak peduli denhgan hujan yang mulai deras, mereka cabuti sayur-sayuran dikebun itu. Mereka periksa batang dan akarnya begitu terus sampai tak tersisa satu batangpun. Kemudian mereka pindah ke kebun sebelah dan merekapun melakukan hal yang sama, masih juga mereka tak menemukan sebutir garampun sampai hujanpun mereda. Dengan muka letih dan basah kuyup, mereka pulang kerumah. Alangkah kaget mereka mengetahui halaman rumah mereka dipenuhi banyak orang. Sang Ayah dan Sang Ibu sibuk meminta maaf, berharap para pemilik sayuran memaklumi ketidak pahaman anak-anak mereka. Orang-orang itu berbalik sambil menggeleng-gelengkan kepala. Begitu halamn rumah kosong tinggal sang Ayah dan sang Ibu mereka keluar dari persembunyian.

 

Pesan yang tersirat dalam cerita diatas adalah bahwa kita menjadi orang tidak boleh seperti si Palui dan Si Ngungu yang tergesa-gesa dan sembrono. Kita seharusnya menjadi orang yang tenang serta ketika kita berguru tidak boleh kepalang atau setengah-setengah karena apa? Kalau kita berguru hanya setengah-setengah maka ilmu yang kita dapatkan sepotong-sepotong dan akan meyebabkan banyak kesalahan apalagi kalau ilmu itu sampai ditularkan kepada orang lain akan menyebabkan perpecahan akibat kelalaian seseorang yang menuntut ilmu hanya setengah-setengah.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar