Jumat, 28 November 2014

Beragama dengan hati dan dalam Tindakan


Oke sob, disini aku iseng-iseng nulis apa yang aku rasain selama ini, ditulis berdasarkan analisa beberapa buku yang saya baca, video, ceramah dan pengalaman diri pribadi mengenai konteks keAgamaan. Saya membuka forum diskusi terbuka apabila terdapat kritik terhadap tulisan ini. Serta tak lupa saran dari para sahabat sekalian apabila kurang berkenan dengan tulisan ini.
Saya akan mengawali menulis ini dengan mendefinisikan makna dari sebuah agama. Agama berasal dari dua kata A dan Gama, A yang artinya tidak dan gama yang artinya kerusakan, dari namanya saja sudah tampak terlihat agama merupakan sesuatu yang tidak rusak. Sedangkan menurut KBBI Agama adalah suatu ajaran atau sistem yang mengatur tata keimanan dan peribadatan kepada Tuhan YME serta tata kaidah bersosialisasi kepada masyarakat. Secara serempak dan disepakati jelas agama adalah sesuatu ajaran yang harus dipeluk oleh umat manusia sebagai sumber kepercayaan dalam berperilaku sehari-hari.
Karena saya tinggal di Indonesia yang berbhineka serta menghargai keberagamaan maka saya akan lebih membahas tentang konsep Beragama dalam tindakan. Tanpa menyalahkan maupun menspesialkan agama tertentu. Indonesia yang terkenal dengan berbagai macam budaya, suku, bahasa, dan agama mengakui bahwa Negara Indonesia adalah negara yang mengakui adanya Tuhan. Agama yang tercatat dan terakui oleh pemerintah di Indonesia ada enam, antara lain: islam, budha, hindu, kristen, katholik, maupun konghuchu. Apapun itu agamanya, entah itu Monoteisme maupun multiteisme yang jelas dalam agama yang diajarkan pasti suatu kebaikan.
Tapi, Bagaimana jika agama menjadi dasar untuk kerusakan dan perpecahan???? Ya, pertanyaan itu pasti akan muncul ketika kita telusuri banyak kasus atau kejadian pada era sekarang yang menyebabkan kehancuran dengan berkedok agama. Coba saja kita lihat peristiwa bom bunuh diri di Bali pada tahun 2004 lalu yang menewaskan ribuan turis asing dan masyarakat lokal tak lain dan tak bukan peristiwa itu merupakan terosisme yang mengatasnamakan Tuhan. Seorang muslim yang beragama hanya dari luarnya saja menjatuhkan bom bunuh diri di Bali dengan dalih membunuh orang-orang kafir. Belum lagi saya menemukan berbagai macam info kristenisasi di beberapa rumah sakit swasta dengan iming-iming pengobatan gratis serta mendapat biaya tambahan setiap bulan asalkan mau memeluk ajaran kristen. Disini saya melihat ada sebuah pemaksaan kehendak dan politik kepentingan. Masih ada lagi kaum Yahudi yang ingin menguasai dunia dengan konsep New Wordl Order yang dalam konspirasinya akan banyak merugikan banyak orang. Dan masih bahyak lagi kejadian di dunia ini jika kita telusuri ujung tombaknya adalah pemahaman agama hanya dari luarnya saja.
Apakah ada yang salah dengan agama yang kita anut? Apakah masyarakat era modern sudah tak cocok lagi menggunakan agama sebagai pedoman dalam berkehidupannya? Berbagai pertanyaanpun akan muncul dari sini. Sebelum kita jawab pertanyaan diatas saya akan mencoba mendeskripsikan China yang notabene masyarakatnya tak mempercayai Tuhan atau yang biasa disebut Atheis.
China dengan jumlah populasi penduduk yang padat kini menjadi pusat perekonomian ASIA. Ekonomi mikro atau UMKM yang dikembangkan oleh pemerintah mampu menyuplai APBN negara yang lumayan sangat banyak. Masyarakat China sendiri tersebar dimana-mana dan tak jarang kita temui seorang berdarah China pasti kaya. Ada apa dibalik cerita masyarakat China sehingga mereka bisa kaya dan bisa menybarkan rasnya keberbagai penjuru dunia?. Masyarakat China dikenal ulet dan gigih dengan menerapkan prinsip berjualan maka tak jarang banyak Chinese yang kaya raya dan menjadi bos.
China merupakan negara yang dirujuk Rosulullah sagai tempat menimba ilmu dari suatu hadits Rosulullah SAW bersabda : “ Tuntutlah Ilmu Sampai kenegeri China”. Saya pernah diceritakan guru saya mengapa yang ditunjuk Rosul adalah negeri China bukan negeri Arab, Mesir, Palestina, maupun negara arab lainnya. Mungkin sangat unik ketika kita menelisiknya lebih dalam. Seperti penggalan cerita diatas masyarakat China terkenal dengankeuletan dan kegigihannya serta tak mudah putus semangatmungkin itu yang telah menjadi dasar Rosul kita mengapa negara yang dirujuk hadits tersebut adalah China. China yang tak mengakui adanya Tuhan tetapi sesungguhnya mereka adalah manusia berTuhan. Manusia yang mengamalkan agama bukan hanya dari luarnya saja melainkan mengamalkan agama dari dalam yaitu dari inti kesejatian.
Disini saya bukan mengajak siapapun untuk tidak beragama atau tidak percaya akan adanya Tuhan. Tapi, saya mengajak kepada sahabat sekalian untuk menjadi pemeluk agama yang cerdas. Jelas sangat terlihat berbeda ketika kita memeluk agama hanya dari pendoktirnisasi saja dengan memeluk agama karena kita faham, kita sadar, dan kita benar-benar yakin akan adanya Tuhan. Meskipun agama kita bawaan lahir atau keturunan dari orang tua, tapi kita berkewajiban mencari inti kesejatian hidup dan mencari kebenaran dari agama yang telah kita percaya dari semenjak bayi itu.
Mungkin sekarang banyak orang yang beragama hanya sebagai formalitas atau sebagai isian di KTP agar kolom agama di KTP tertulis huruf-huruf yang berjejer karena dinegara Indonesia seseorang warga haruslah memeluk agama atau menganut suatu kepercayaan. Ditingkat agak atas sedikit ada orang yang beragama hanya dengan lisan. Mereka percaya akan adanya Tuhan, mereka percaya akan adanya dosa, syurga dan neraka tapi mereka lupa akan adanya kehidupan. Yang seperti inilah yang berbahaya yang bisa menjerumuskan seseorang dalam jurang taklid buta.
Disini saya ingin mengajak sahabat sekalian beragama dengan hati dan dalam tindakan. Benar-benar memahami konsep agama, tak hanya mengikuti doktrinisasi tanpa tau asal dan muasalnya. Mari beragama dengan perbuatan, saling mengasihi dan menghargai perbedaan. Karena pada dasarnya agama semuanya sama dan Tuhan itu Esa. Jangan jadikan Agama sebagai tujuan sehingga mulut kita mudah mengkafirkan, tapi jadikanlah agama sebagai jalan. Jalan menuju yang haqiqi yaitu Dzat yang maha agung. Allah azza wa jalla.

Diselesaikan pada pukul 00.41 WIB
Jum’at, 28 Novemeber 2014

Kamar Ponpes Assabila, Patemon, Semarang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar